Terpenjara Dalam Jaringan Google

Standard

Banyak orang menyebut saya ini Google mania. Mereka bilang bahwa saya terlalu sering mempromosikan atau mengunggulkan kiprah dan teknologi yang dimiliki Google. Bahkan, kadang saya disebut sebagai Google ambassador. Oh, I wish.

Saya akui bahwa saya memang pengguna setia layanan atau produk keluaran Google. Hampir semua produk yang mereka miliki saya gunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada produk yang tidak aktif saya gunakan setiap hari, paling tidak saya pernah mencoba dan menikmatinya beberapa lama.

Terlepas dari beberapa layanan yang berakhir di ‘kuburan’, Google Wave salah satunya, hampir semua layanan milik Google memiliki kualitas yang mumpuni dan dapat diandalkan.

Sebut saja Gmail yang memberikan ruang begitu besar kepada setiap penggunanya serta keamanan yang dapat dipercaya. Google Drive dengan kapasitas 5 GB per orang secara cuma-cuma. Google+ dengan fasilitas instant upload yang dapat mengunggah foto maupun video tanpa batas secara otomatis.

Google Search yang kita jadikan rujukan ketika kebingungan atau keraguan melanda. Atau Google Maps yang kita jadikan penyelamat ketika kehilangan arah. Belum lagi Google Apps gratis untuk domain pribadi denganfasilitasnya yang lengkap. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sebenarnya, ‘promosi’ yang saya lakukan masih dalam batas kewajaran — setidaknya menurut saya pribadi. Toh, mereka menyediakan layanan secara cuma-cuma untuk digunakan dengan sepuasnya.

Mereka tak meminta bayaran sepeser pun. Maka dari itu saya menganggap promosi — atau apapun sebutannya — yang saya lakukan sebagai imbal balik atas jasa yang mereka berikan. Win-win solution lah. Meskipun kita tahu bahwa mereka mendapatkan imbalan yang begitu besar dari penggunanya, data.

Tapi, belakangan saya menyadari bahwa semakin lama saya memanfaatkan layanan Google semakin terasa bahwa saya terpenjara. Bukan dalam artian mati kutu sehingga tidak bisa menggunakan layanan lain layaknya penjara di dunia nyata.

Melainkan penjara dimana seluruh kehidupan saya dikelilingi oleh layanan yang disediakan oleh perusahaannya Larry Page ini. Apalagi setelah saya menggunakan Android dengan semua fitur Google-nya. Kalau boleh berlebihan, kehidupan ini rasanya akan mati jika berani coba-coba untuk keluar dari Google.

Terlalu jauh jalan yang sudah saya tempuh bersama Google, dari jaman sejak kenal internet hingga sekarang. Banyak hal yang telah ditorehkan dengan rapi, indah, dan cemerlang.

Mulai dari pencitraan ataupun foto-foto yang masuk ke index pencarian. Hingga pertemanan yang terjalin begitu akrab dalam Circles yang ada di Google+. Terlebih, saya membutuhkan itu semua untuk kehidupan di dunia maya.

Rasanya tidak mungkin untuk tahu-tahu lenyap dan meninggalkan semuanya. Terlalu banyak pertimbangan yang harus dibuat. Terlalu banyak pula pengorbanan yang harus dilakukan. Di samping itu, jalan keluar itu terlihat begitu gelap apalagi ditempuh.

Jika sudah begini, lalu bagaimana? Otak ini kemudian membawa saya kepada Andy Dufresne. Seorang bankir yang dipenjara karena dituduh membunuh isterinya dalam The Shawsank Redemption.

Setelah menyadari dirinya dalam penjara yang dilakukan pertama-tama adalah bertahan hidup. Setelah itu? Mencari cara agar penjara ini memberikan manfaat bagi dirinya. Singkat cerita, Dufresne membawa uang USD 370.000 ketika dia kabur dari penjara setelah membobol tembok.

Disadari atau tidak, untuk bertahan hidup di dunia maya kita butuh penjara semacam Google ini. Dan percayalah bahwa tidak hanya Google saja penjara yang telah mengungkung kehidupan kita. Ada penjara Apple dengan iOS dan Mac-nya, penjara Microsoft dengan SkyDrive dan Office suite-nya, penjara Facebook, dan lain-lain. Keluar dari salah satu akan memaksa kita berhadapan dengan penjara lainnya.

Belajar dari pengalaman Andy Dufresne, yang perlu dilakukan sekarang adalah bertahan hidup dan belajar mengambil manfaat selagi bisa. Menggunakan Google Translate untuk belajar bahasa asing, misalnya. Menjadikan Hangout untuk saling menyapa dan ngobrol dengan teman dari belahan dunia lain serta belajar tentang kehidupan mereka.

Mendapatkan berita terbaru yang menambah wawasan dan pengetahuan dengan Google News, Google Reader dan Google Alerts. Atau juga mendapatkan uang dari hasil memanfaatkan Google Adsense.

Google bisa menjadi penjara yang membosankan dan mematikan. Sebaliknya, ia juga bisa menjadi ladang yang dapat dikeruk manfaat baik materi maupun non-materi. Semuanya tergantung bagaimana cara kita memandang dan menggunakannya.

Tipe pengguna manakah Anda? Golongan mereka yang menikmati rutinitas dan kebosanan di penjara-penjara ini? Ataukah justru menjadi golongan yang mengeruk manfaat berlimpah sehingga hidup jadi lebih hidup?

Ahmad Saiful Muhajir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s